Calya Athaya Tungga Dewi, Hadiah Sempurna berupa Bidadari yang Mulia. Itulah arti dari nama anakku yang ke-3, putri kedua ku. Lahir tgl 6 Desember 2007 dengan berat 2,720 kg dan panjang 49 cm. Lewat persalinan yang cukup melelahkan, 15 jam aku dirumah sakit, menunggu pembukaan demi pembukaan. Kata orang semakin sering melahirkan kontraksi tidak terasa sakit, apalagi ini anak ke-3, sudah pengalaman, membuatku sedikit tenang. Tapi apa mau dikata, pada saat pembukaan 3 janinku tidak juga beranjak, seperti masih betah didalam. Saat pembukaan 9, sakit yang dirasa sama saja, tetap tak tertahan, saki……………………………..t, mau anak pertama,kedua, ketiga, sama saja, sama-sama sakit, hanya saja lebih bisa mengendalikan diri. Waktu anak pertama dan kedua, aku selalu berteriak-teriak setiap merasakan sakitnya kontraksi, sampai-sampai suster memarahiku. Persalinan ketiga ini sudah tidak teriak-teriak lagi, aku hanya sibuk mengatur nafas, tarik-buang, tarik-buang, sebisa mungkin aku buat setenang-tenangnya. Aku malu teriak, walau sebenarnya ingin sekali, zikir ya zikir, cuma tetap saja sakit. Rasanya memang tidak ada yang bisa menggantikan rasa sakit waktu persalinan, ingin rasanya disuntik penghilang rasa sakit, tapi ngeri, disuntiknya di tulang belakang, takut efek sampingnya. Akhirnya ya dinikmati saja, toh setelah keluar otomatis hilang. Anak ketiga ini tidak menunggu dokter lagi, walau pembukaannya belum sempurna dan aku hanya ditemani para suster, tidak diperbolehkan mengejan dulu, karena akan membuat robekan lebih lebar, tapi ternyata anakku sudah tidak mau disuruh menunggu dokter yg katanya on the way tapi tidak datang-datang, akhirnya aku tidak bisa menahannya lagi, walau air ketuban belum pecah, karena ada dorongan dari dalam aku mengejan saja kuat-kuat, yang pertama mengeluarkan sesuatu, aku tak tahu apa, sepertinya ketuban atau darah, suster sudah memperingatkan agar ejanan jangan diteruskan, karena dokter belum datang juga,tapi aku tidak peduli, aku sudah tidak tahan, aku mengejan dengan kuat untuk kedua kalinya, sambil teriak keras dan lepas……..
Broll…………………!keluar juga, aku tidak tahu apa bayiku sudah keluar atau belum tapi rasanya sudah plong. Suster ternyata tidak mengetahui kalau bayiku ternyata sudah keluar, karena tertutup selimut yang menutupi kedua kakiku yang mengangkang lebar. Suamiku yang memberitahu, ada yang bergerak dibawah selimut itu, dan setelah dilihat, ternyata benar, bayiku sudah keluar dengan sendirinya, tanpa aba-aba, tanpa ditangkap oleh dokter, karena dokternya memang belum datang, aku sekilas melihat wajah suster agak sedikit kaget dan bingung, tapi dia berusaha tenang, sambil berkata," Ih …bayinya pintar ya, mau keluar sendiri…! lalu bayiku diangkat dan dia menangis, kuat, suamiku yang memotong tali pusatnya. Setelah itu dokternya baru datang, " Lho, kok sudah keluar….?" itu kata-kata yang keluar dari mulutnya dokter, aku melihat suster dan dokter berbisik-bisik, tapi aku tak peduli, yang penting bayiku sudah keluar dengan selamat, dengan atau tanpa dokter. Tak peduli lebarnya robekan, toh tetap ada jahitan, dari anak pertama, kedua dijahit juga walau dengan aba-aba dari dokter.
Kelahiran anak ketiga ini memang sedikit berbeda dengan kakak-kakaknya, kali ini, tanpa dimandikan dulu, anakku hanya dilap lalu langsung ditaruh didadaku untuk Inisiasi Dini, lucu, dokter sibuk menjahit, suamiku sibuk memotret, bayiku yang kelelahan berbaring didadaku, berapa menit kemudian, aneh tapi nyata dia bergerak-gerak, sepertinya mengetahui dimana letak puting susu ibunya, mulut mungilnya meraba-raba, mencari puting, agak lama memang, tapi memang sudah sunah alam, bayi yang baru lahir itu sudah bisa berusaha untuk menemukan puting susu ibunya , dan setelah dapat langsung dihisap! Subhanallah! ini betul-betul aku rasakan. Memang menjadi seorang ibu itu luar biasa!
Setelah selesai persalinan yang sakit dan melelahkan, disusul dengan rasa sakit jahitan yang nyeri dan ngilu, belum rasa nyeri payudara yang dihisap bayi, sempurna sudah. Tapi itu semua akan menambah nikmatnya kita mempunyai anak, semua terasa hilang saat kita memandang, menggendong bayi yang lahir sehat dan menyusuinya. Selamat datang ke dunia , anakku.